Pelajar Indonesia di Kairo dan Semangat Sumpah Pemuda
Pelajar Indonesia di Kairo dan Semangat Sumpah Pemuda

Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia
mengenang Sumpah Pemuda. Kita biasanya membayangkan para pemuda yang berkumpul
di Batavia pada 1928. Namun semangat persatuan itu juga hidup di tempat yang
jauh dari tanah air, termasuk di Kairo, Mesir. Di sana, sekelompok pelajar
Indonesia di Kairo belajar di Al-Azhar sambil menerbitkan majalah, mendirikan
perkumpulan, dan menyuarakan cita-cita tentang satu bangsa.
Artikel ini mengajak Anda menelusuri
kisah mereka: dari masa ketika pelajar Nusantara masih disebut “Jawi”, lahirnya
majalah Seruan Azhar, sampai dukungan Mesir bagi kemerdekaan Indonesia.
Di bagian akhir, kita lihat apa maknanya bagi calon pelajar yang ingin
berangkat ke Mesir hari ini.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Sekilas
tentang Sumpah Pemuda
Sumpah Pemuda adalah ikrar yang
dibacakan pada penutupan Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, di Batavia (kini
Jakarta). Isinya tiga janji: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia;
berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa
Indonesia.
Ikrar ini penting karena
mempertemukan pemuda dari banyak daerah dan organisasi yang sebelumnya bergerak
sendiri-sendiri. Mereka sepakat menaruh identitas kedaerahan di bawah identitas
bersama sebagai bangsa. Gagasan itu tidak muncul tiba-tiba. Ia tumbuh dari
banyak ruang: sekolah, organisasi, surat kabar, dan ruang belajar para pelajar
di luar negeri.
Dari
“Jawi” ke “Indonesia”: Pelajar Nusantara di Al-Azhar
Pelajar dari Nusantara sudah lama
menimba ilmu di Al-Azhar. Orang Arab menyebut penduduk Asia Tenggara dengan
kata “Jawi”, sehingga pelajar dari Sumatra, Jawa, hingga Semenanjung Malaya
dikenal sebagai pelajar Jawi. Nama itu juga melekat pada ulama besar, misalnya
Syekh Nawawi al-Bantani al-Jawi.
Di lingkungan Masjid Al-Azhar, para
pelajar ini punya ruwaq Jawi, yaitu bagian masjid yang menjadi tempat
berkumpul, tinggal, dan belajar bagi komunitas mereka. Di sanalah mereka
mengikuti tradisi talaqqi, belajar langsung dari syaikh,
yang sampai sekarang masih hidup.
Memasuki 1920-an, jumlah pelajar
dari Indonesia dan Malaya bertambah. Menurut catatan sejarawan yang dikutip
dalam sejumlah tulisan, pelajar asal Indonesia di Kairo pada dekade itu hanya
sekitar enam puluh orang, dan kebanyakan berasal dari Minangkabau. Jumlahnya
kecil, tetapi pengaruhnya besar.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Perkumpulan
dan Majalah: Suara Pelajar dari Kairo
Pada awal 1920-an, pelajar Nusantara
di Kairo mendirikan perkumpulan Al-Jam’iyyah al-Khairiyyah ath-Thalabiyyah
al-Azhariyyah al-Jawiyyah. Sumber sejarah mencatat tahun pendiriannya
berbeda-beda, antara 1922 dan 1923. Pemimpinnya adalah Djanan Thaib.
Tak lama kemudian terbit majalah Seruan
Azhar pada Oktober 1925. Isinya memang banyak membahas agama, tetapi
gagasan tentang persatuan dan kebangkitan tanah air berulang kali muncul. Di
tengah jalan, pengelola redaksi berbeda pendapat tentang arah majalah. Kelompok
Indonesia kemudian menerbitkan majalah lain bernama Pilihan Timur.
Terbitan seperti Merdeka dan Usaha Pemuda juga tercatat sebagai
media pelajar Indonesia di Mesir.
Pada 14 Agustus 1927, perayaan dua
tahun Seruan Azhar digelar di kantor majalah itu, tak jauh dari Masjid
Al-Azhar, dan dipimpin oleh Abdul Kahar Muzakkir. Salah satu pelajar yang hadir
menyebut majalah ini sebagai suara pelajar untuk kemerdekaan Indonesia dan
Malaya. Ia juga mengingatkan bahwa kebebasan pers di Mesir memberi ruang
bersuara yang tidak mereka dapatkan di negeri sendiri.
Pada pertengahan 1930-an, pelajar
dari kedua wilayah itu bergabung dalam Persatuan Talabah Indonesia Malaya (Pertindom).
Munculnya kata “Indonesia” pada nama organisasi menjadi tanda bahwa kesadaran
sebagai satu bangsa mulai tumbuh di kalangan mereka.
Tokoh-Tokoh
Pelajar Nusantara di Kairo
Beberapa nama yang sering disebut
dalam sejarah pelajar Nusantara di Kairo pada masa itu:
- Djanan Thaib,
pemimpin perkumpulan pelajar yang pertama. Ia tercatat sebagai orang
Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana di Al-Azhar.
- Ilyas Ya’kub,
pengelola redaksi Seruan Azhar dari kalangan Indonesia.
- Mahmud Yunus,
yang kemudian dikenal sebagai tokoh pendidikan Islam dan penyusun kamus
Arab–Indonesia.
- Abdul Kahar Muzakkir,
tokoh Muhammadiyah asal Yogyakarta yang belajar di Al-Azhar dan Darul Ulum
serta aktif dalam pergerakan pelajar.
- Muhammad Idris al-Marbawi, ulama Nusantara penyusun kamus Arab–Melayu.
Mereka membuktikan bahwa belajar di
Kairo bukan hanya soal kitab, tetapi juga soal menyiapkan diri untuk berperan
di tengah masyarakat.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Dari
Pena ke Diplomasi: Mesir dan Kemerdekaan Indonesia
Kedekatan Kairo dan Indonesia
berlanjut setelah Proklamasi 1945. Para pelajar Indonesia di Timur Tengah ikut
menggalang simpati. Sejumlah tulisan sejarah mencatat berdirinya panitia
pembela kemerdekaan Indonesia di Kairo, Mekkah, dan Baghdad.
Banyak sumber mencatat Mesir sebagai
negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia secara resmi.
Langkah-langkahnya sebagai berikut:
- 22 Maret 1946:
Mesir memberikan pengakuan de facto.
- 18 November 1946:
Dewan Liga Arab menganjurkan negara-negara anggotanya mengakui Indonesia.
- 10 Juni 1947:
Indonesia dan Mesir menandatangani perjanjian persahabatan di Kairo.
Delegasi Indonesia dipimpin Haji Agus Salim, dan peristiwa ini dicatat
sebagai pengakuan de jure.
Keberhasilan diplomasi itu tentu
hasil kerja banyak pihak. Namun suasana di Kairo, tempat para pelajar Indonesia
aktif memperkenalkan perjuangan tanah air mereka, ikut menjadi bagian dari
ceritanya.
Semangat
Sumpah Pemuda dalam Kehidupan Masisir Hari Ini
Hampir seabad kemudian, jumlah
pelajar Indonesia di Mesir jauh lebih banyak. Mereka dikenal sebagai Masisir,
singkatan dari Mahasiswa Indonesia di Mesir. Semangat para pendahulu masih
terlihat dalam beberapa hal:
- Persatuan lintas daerah. Pelajar dari berbagai provinsi bertemu dalam
organisasi dan kelompok kekeluargaan. Lihat ragam kegiatannya di Kegiatan dan Kajian Ilmiah
Masisir yang Wajib Diikuti.
- Tradisi menulis dan bermedia. Jejak Seruan Azhar berlanjut pada media pelajar
masa kini. Baca juga Media dan Pers Mahasiswa
Indonesia di Mesir yang Perlu Anda Kenal.
- Merayakan momen kebangsaan. Setiap tahun Masisir memperingati hari besar nasional
di Kairo, misalnya Hari Santri Nasional di Mesir.
- Ilmu untuk bangsa.
Seperti para pendahulunya, lulusan Al-Azhar pulang membawa ilmu untuk
masyarakat. Kenali tokohnya di Alumni Al-Azhar yang Menjadi
Tokoh Nasional Indonesia dan Kisah Alumni Al-Azhar Indonesia.
Pelajaran
bagi Calon Pelajar yang Ingin Belajar di Mesir
Kisah ini memberi tiga pelajaran.
Pertama, belajar di luar negeri bukan hanya soal ijazah, tetapi juga membentuk
cara pandang. Kedua, kebiasaan menulis dan berorganisasi membuat ilmu lebih
bermanfaat bagi orang lain. Ketiga, cinta tanah air tidak hilang karena jarak.
📲 Follow & cek update resminya di Instagram Helwa Center:
👉 https://www.instagram.com/helwa_center
Pertanyaan
yang Sering Diajukan
Apa itu ruwaq Jawi? Ruwaq Jawi adalah bagian di lingkungan Masjid Al-Azhar yang
menjadi tempat berkumpul, tinggal, dan belajar bagi pelajar dari Nusantara.
Apa itu Seruan Azhar? Seruan Azhar adalah majalah pelajar Nusantara di
Kairo yang mulai terbit pada Oktober 1925. Majalah ini memuat topik agama dan
juga gagasan persatuan serta kebangkitan tanah air.
Apakah Mesir negara pertama yang
mengakui kemerdekaan Indonesia?
Banyak sumber mencatat Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan
Indonesia secara resmi, yaitu secara de facto pada 22 Maret 1946 dan secara de
jure pada 10 Juni 1947.
Kapan Sumpah Pemuda diperingati? Sumpah Pemuda diperingati setiap 28 Oktober, mengacu pada
ikrar yang dibacakan pada Kongres Pemuda II tahun 1928.
Sejarah dan Budaya Administrator 27 Oct 2026 08:35am
-
Komentar : 0
Berikan komentar terbaik Anda
Kategori
- 18
- 8
- 23
- 111
- 7
Tulisan Terbaru
-
Pelajar Indonesia di Kairo dan Semangat Sumpah Pemuda
27 Oct 2026 08:35am -
Program "2000 Lc untuk Negeri": Gerakan Alumni Al-Azhar Kembali ke Masyarakat
26 Oct 2026 08:56am -
Pulang ke Indonesia Setelah Lulus Al-Azhar: Adaptasi dan Langkah Pertama
23 Oct 2026 09:18am -
Fenomena "Mahasiswa Selebgram" di Kalangan Masisir: Peluang atau Distraksi?
22 Oct 2026 07:18am -
Cara Mahasiswa Indonesia Merayakan Idul Fitri dan Idul Adha di Kairo
21 Oct 2026 08:24am -
Media dan Pers Mahasiswa Indonesia di Mesir yang Perlu Anda Kenal
20 Oct 2026 07:41am -
Aplikasi dan Tools Wajib Mahasiswa Al-Azhar di Era Digital
19 Oct 2026 07:23am -
Mengenali Pikiran, Memahami Perasaan: Belajar Psikologi Bersama Kuttab Helwa Center Mesir
16 Oct 2026 07:43am -
Membawa Keluarga ke Mesir: Bolehkah Mahasiswa Bawa Istri atau Anak?
15 Oct 2026 07:49am -
Program Magang dan Penelitian untuk Mahasiswa Al-Azhar di Mesir
14 Oct 2026 07:26am
